RSS

“SEPUTAR KABAR BURUNG PENGUNDURAN DIRI DAHLAN ISKAN”

20 Mei

Meneg BUMN Dahlan Iskan mempertimbangkan akan MUNDUR dari Kabinet Indonesia Bersatu

Pertimbangan mundur Dahlan Iskan ini dipicu oleh pertemuan Selasa malam (15/05) di Istana Negara

Selain Meneg BUMN Dahlan Iskan dan Presiden SBY sebagai tuan rumah; turut hadir dalam pertemuan tadi malam :

Yaitu Mensesneg Sudi Silalahi, Menteri ESDM Jero Wacik, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan dan Dirut Pertamina Karen Agustiawan

Ada 2 Agenda dalam pertemuan di Istana Negara tadi malam

Pertama, Pengangkatan dan Pemberhentian Komisaris/Direksi Pertamina

Kedua: Membahas isu2 yang beredar di social media dan pernyataan sejumlah anggota DPR terkait pengadaan BBM

Di awal pertemuan, Jero Wacik mengeluh terkait pemilihan Komisaris dan Direksi Pertamina

“Bapak Presiden, soal Dewan Komisaris dan Direksi Pertamina, Pak Dahlan tidak melibatkan saya,” kata Jero Wacik

Dahlan sontak menyahut, “Mohon maaf Bapak Presiden, saya baru tahu kalau pertemuan ini mempermasalahkan kewenangan saya,”

Jero Wacik pun membalas,”Betul itu kewenangan Pak Dahlan, tapi tolong saya diajak bicara karena tataran kebijakan energi ada di kami,”

Dahlan membalas lagi, “Pergantian Direksi BUMN adalah Konsep ‘the dream team’, saya sudah sampaikan dalam sidang kabinet,”

Seperti diketahui, Meneg BUMN Dahlan Iskan memang tengah menggodok konsep “the dream team” yang intinya supaya BUMN itu maju

“BUMN tidak maju apabila direksinya tidak kompak,” jelas Dahlan di Istana Negara tadi malam

Asumsi Dahlan Iskan, untuk bisa kompak, BUMN harus dibentuk tim yang kuat melalui konsep “The Dream Team”

“Direksi BUMN yang pintar belum tentu sebuah tim yang kuat. Harus ada diskusi antara Kementerian BUMN dengan masing-masing Dirut BUMN,”

Direktur utama BUMN, lanjut Dahlan, merupakan pihak yang mengajukan nama untuk diperiksa, apakah ada yang tidak memenuhi syarat

“Misalnya tidak pernah fit and proper test atau ada catatan dibidang integritas. Itu diproses dan disampaikan ke Dirutnya,” kata Dahlan

Soal Tim Penilai Akhir (TPA), lanjut Dahlan, hanya berlaku bagi Direktur Utama BUMN tertentu

“TPA ketuanya Presiden, apabila Presiden setuju berarti TPA setuju,” ujar Dahlan Iskan

Kembali ke Istana Negara, Presiden SBY mengatakan, “Soal Direksi Pertamina, saya dianggap seperti tidak ada,” katanya

bagai disambar petir Dahlan terhenyak dengan perkataan Presiden SBY, semua yang hadir menahan nafas

Dahlan pun menunggu apa yang akan disampaikan Presiden SBY

Dahlan seketika menyadari, Menko Perekonomian Hatta Rajasa tidak ikut hadir dalam pertemuan tersebut

Kenapa bisa terjadi perseteruan antara SBY dengan Dahlan Iskan? #Tebak2an

Berkaitankah dengan Hatta Rajasa?

Mari kita simak sedikit ke belakang .. Anggap saja ada prequel😀

Pada 8 Maret 2012, Dahlan mencopot Wakil Komisaris Utama Pertamina Umar Said dan Komisaris Triharyo Susilo

Umar Said berusia lebih dari 70 tahun. Meski UU BUMN tidak mensyaratkan soal usia komisaris, namun efektifitas pengawasan dipertanyakan

Sebelum berhenti, Umar Said dijuluki sebagai DON Pertamina. Apapun yang dilakukan oleh Dewan Direksi Pertamina harus se-izin Said

Sebagai contoh, pada 2010 ada tender pembangunan RFCC Kilang Cilacap (Proyek Cilacap) berkolaborasi dengan Komisaris Triharyo Soesilo

Said kemudian membatalkan hasil tender yang telah dimenangkan oleh SK Engineering dari Korea

Kemudian Said dan Triharyo mengusung sebuah konsorsium perusahaan untuk memenangkan tender tersebut

Perusahaan tersebut adalah konsorsium PT Rekayasa Industri dengan partnernya SK Engineering Company dan Toyo Engineering

Dengan berbagai cara, Said dan Triharyo berusaha untuk memenangkan konsorsium Rekayasa Industri

Hingga saat ini, belum ada info kelanjutan proyek RFCC Cilacap tersebut

Tapi duet Said dan Triharyo memang kerap ikut campur masalah keorganisasian dan personalia Pertamina

Selama kurun waktu Said di Pertamina, sudah beberapa kali organisasi Pertamina diubah terus sesuai dengan Said dan Triharyo

Yang sangat mencolok adalah perubahan organisasi yang berhubungan dengan pembelian minyak Pertamina

Unit yang melakukan pembelian di Pertamina adalah Integrated Supply Chain (ISC)

Organisasi ini dari awalnya tidak dapat dibereskan dengan baik karena berbagai kepentingan ada didalamnya

ISC dibentuk 5 tahun lalu atas rekomendasi Said dengan referensi dari konsultan McKinsey yang dibayar Pertamina USD 100 juta

Pembentukan ISC merupakan perubahan yang cukup mendasar bagi organisasi Pertamina di sektor hilir

Sejak adanya organisasi ISC, perencanaan Pertamina menjadi tidak fokus

ISC jadi alat untuk memuluskan berbagai perusahaan untuk mensuplai kebutuhan minyak Pertamina oleh Said danTriharyo

Karena alasan tertentu, Said dan Triharyo di tahun 2010 berniat merombak membubarkan ISC dan memindahkannya ke bawah Direktur Umum

Kebijakan ini dinilai aneh, karena sangat tidak sesuai dengan kompentensi Direktur Umum Pertamina

Pengadaan minyak harus mempunyai keahlian dan diposisikan dalam Direktorat yang tepat

Tindakan Said dan Triharyo cenderung tidak dilandaskan pada pemikiran yang matang dan tepat, tapi lebih pada alasan bisnis pribadi

Mungkin banyak orang bertanya-tanya mengapa Umar Said bisa menjadi demikian berkuasa di Pertamina

FYI, Said selalu menyatakan dirinya bahwa dia adalah wakil dari Presiden SBY di Pertamina

Faktanya Said adalah tim sukses Presiden SBY dalam pemilu 2009 bersama Jenderal Sutanto

Karena “posisi”-nya dan kedekatannya dengan partai Demokrat itulah banyak sekali orang yang percaya dan akhirnya merasa takut kepada Said

Fakta mengenai Triharyo atau dikenal koleganya di ITB sebagai Hengky adalah saudara ipar dari Sri Mulyani

Sebelumnya, Triharyo menjabat sebagai Dirut PT Rekayasa Industri sebagai kontraktor RFCC

Kembali ke situasi Istana, Apakah betul pemicu kemarahan Presiden SBY yang menganggap seolah-olah tidak ada, terkait dengan Said?

“Bu Karen, apakah betul Direksi Pertamina yang baru masukan dari Ibu, seperti yang dikatakan Pak Dahlan?” tanya Presiden SBY

Dirut Pertamina kemudian menjawab, “Betul Pak, kami serahkan beberapa nama untuk diperiksa kementerian,” kata Karen

“Beredar isu pengangkatan Direktur Pemasaran dan Niaga dan Direktorat Pengolahan tak lepas dari tekanan pengusaha?” kata Presiden SBY

Dahlan mungkin berpikir keras “Apakah Presiden SBY sudah memiliki calon lain diluar nama yang diajukan Dirut Pertamina?”

Jero Wacik, Gita Wirjawan dan Sudi Silalahi kontan menghela nafas sembari menatap Dahlan yang sedang menunggu jawaban

“Kami telah memeriksa keduanya berdasarkan integritas dan kapabilitas, keduanya profesional,” tegas Dahlan

Seperti diketahui, pada 18 April 2012 Dahlan merombak dan mengangkat Direksi Pertamina yaitu:

Chrisna Damayanto sebagai Direktur Pengolahan, Hanung Budya Yuktyanta sebagai Direktur Pemasaran dan Niaga,

Evita Maryanti sebagai Direktur SDM, Luhur Budi sebagai Direktur Umum, Hari Kulyarto sebagai Direktur Gas

Chrisna sendiri pernah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus Zatapi yang sudah di SP3 oleh Mabes Polri di tahun 2010

Sedangkan Hanung adalah bekas Deputi Pemasaran dan Niaga era Ahmad Faisal

Faisal dan Budya adalah konseptor awal konversi Migas di era SBY – JK

Sebetulnya Faisal berpeluang besar menggantikan Ari Soemarno tapi kandas, karena lebih dekat dengan JK, selain itu ideologinya pro Soekarno

Sebelum menjadi Deputi, Hanung pernah menjadi Dirut Petral

Namun pada masa SBY-Boediono, Hanung dipindahkan menjadi Dirut Badak NGL

Petral adalah anak perusahaan Pertamina yang tengah jadi sorotan dan disebut-sebut terkait dengan Mafia Minyak Muhammad Reza Chalid

Petral sempat mengundang pers di kantornya, Singapura pada Februari 2012

Sehubungan dengan Petral ini, Presiden SBY bertanya “Bu Karen, bagaimana Anda menjawab tuduhan Petral sarang korupsi,”

“Bapak Presiden, kami sudah mendengar tuduhan tersebut, kami telah undang media, tepat pada saat tender berlangsung,” kata Karen

Karen menjawab, “Petral telah diaudit lembaga audit internasional. Kami telah umumkan tadi pagi untuk opsi pembelian langsung ke produsen,”

Selasa pagi, Karen mengatakan, Pertamina akan mengimpor minyak mentah dan BBM secara langsung ke produsen mulai kuartal III 2012

“Kami mesti memastikan langkah tersebut tidak menimbulkan risiko dalam prinsip kehati-hatian,” lanjut Karen

Dalam kontrak pembelian langsung, lanjut Karen, memang memerlukan pembicaraan antar pemerintah (G2G) terlebih dahulu

Karen juga mengatakan, Pertamina akan mengupayakan penyerapan minyak mentah domestik secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan kilang BBM

“Melalui upaya tersebut, kami ingin meningkatkan ketahanan pasokan energi nasional dan mendukung optimalisasi kinerja Petral,” kata Karen

Menurut dia, sistem pengadaan minyak mentah dan BBM yang dilakukan Petral selama ini telah berjalan dengan baik dan sesuai GCG

Namun, lanjut Karen, Pertamina akan terus melakukan perbaikan secara berkesinambungan

Sementara terkait dugaan Petral sarang korupsi, (Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) sudah siap menindak lanjuti

“Kami mendukung proses hukum ! Tapi kami lawan politisasi Petral,” tegas FSPPB

Kembali ke Istana, Mensesneg Sudi Silalahi menyela pembahasan soal Petral tersebut

“Untuk menanggapi soalan Petral, Bapak Presiden bisa menerbitkan Inpres BBM dan Refinery,” kata Sudi Silalahi

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan pun menyepakati itu

“Menteri Perdagangan melalui Pusat Perdagangan Indonesia siap mengambil alih kewenangan Petral,” kata Sudi

Gita tidak mengiyakan, karena publik pun sedang menyoroti Pusat Perdagangan Indonesia dalam hal impor gula

Silang pendapat saat ini soal pembelian minyak mentah ada 2, pertama pembelian langsung melalui NOC atau kedua pembelian melalui makelar

Apalagi isu Petral sangat seksi, banyak pihak bermain

Saya yakin bahwa isu Petral bukan soal Muhammad Reza Chalid semata

Karena sekarang opsinya lebih condong Petral dibubarkan atau dipindah ke Indonesia dengan bentuk lain

Pertanyaan kemudian adalah jika Muhammad Reza Chalid disingkirkan dari Petral, siapa yang akan diuntungkan?

Pernyataan Sudi Silalahi di Istana Negara Selasa Malam merupakan titik terang jawaban siapa yang bermain dalam kasus Petral

Kasus Petral jelas didesain oleh Istana untuk merebut bisnis impor minyaknya Muhammad Reza Chalid dan Hatta Rajasa

Ada kepentingan yang lebih besar di balik kasus Petral, ini bukan soal korupsi semata

Ada Mafia yang lebih besar yang ingin merebut bisnis migas Muhammad Reza Chalid, yaitu Istana Negara

Hampir dapat dipastikan, jika Petral dibubarkan, akan terjadi tender pengimpor migas yang pesertanya pemain2 migas raksasa Asing

Kembali ke Istana, pertemuan belum menghasilkan keputusan apapun. Presiden SBY pun mempersilahkan tamu2nya pulang

Rabu (16/05) Hatta Rajasa mengaku tidak diundang Istana dalam pertemuan Selasa Malam

Kenapa Hatta Rajasa yang berada di atas Menteri BUMN dan Perdagangan tidak diundang?

Permainan apa yang sedang dilancarkan Istana dalam kasus Petral yang njelimet dan penuh kepentingan itu?

Bagaimana nasib Dahlan Iskan di tengah permainan ini?

Mungkin Dahlan Iskan akan berkata “Politik itu Sadis ! Tapi Minyak lebih Sadis !”

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 20, 2012 in Minyak

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: